Penyintas Autoimun Juga Butuh Paparan Sinar Matahari

Jakarta, Pengidap penyakit autoimun biasanya menghindari sinar matahari, padahal faktanya tidak selalu harus begitu. Justru mereka tetap membutuhkan vitamin D yang berpengaruh dalam proses modulasi imunologi seseorang dan bisa mencegah penyakit tersebut.

Tapi, tentu ada takarannya. Menurut Prof Harry Isbagio, SpPD-KR, saat ditemui di Grand Indonesia beberapa waktu lalu, sinar matahari memang memiliki sinar ultraviolet (UV) A, B, dan C yang masing-masing punya efek negatif.

UVA berpengaruh dalam proses penuaan dan UVB dapat menyebabkan kulit menjadi terbakar dan menghitam. Beruntung UVC diserap oleh lapisan ozon sehingga dampak buruknya tidak terasa. Namun hal ini menjadi bermasalah ketika suatu wilayah memiliki lapisan yang tipis atau bahkan bolong.

Dampak negatif dari terpapar sinar UV tentunya dirasakan bagi penyintas autoimun, tapi responnya beragam bagi tiap penyandang. Ada yang kulitnya menjadi merah-merah, kadang disertai rasa panas atau bahkan bisa menyebabkan tubuh mudah lelah.

Pernyataanya, dari ketiga sinar tersebut mana yang berbahaya bagi penyintas autoimun? Ketiganya sama berbahayanya. Oleh karenanya, Guru Besar Fakultas Kedokteran di Universitas Indonesia ini menyarankan untuk berjemur hanya di tengah sinar matahari pagi.

“Antara jam 6 sampai 10 pagi masih aman, paling 10-20 menit sudah cukup.” anjurnya. Meskipun vitamin D tetap bisa didapatkan dari suplemen, ia tetap lebih merekomendasikan menggunakan sumber yang alami yakni dengan berjemur di pagi hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *